Kegiatan Siswa
Peduli Lingkungan, Tim SMAN 1 Sidayu Sabet Juara 2 Nasional Youth IMPACT 2025

Peduli Lingkungan, Tim SMAN 1 Sidayu Sabet Juara 2 Nasional Youth IMPACT 2025

Di tengah semarak ajang nasional Youth IMPACT 2025 yang digelar di Malang Creative Centre pada 18 Oktober 2025, tiga siswi SMAN 1 Sidayu berhasil menorehkan prestasi gemilang. Mereka adalah Zada Malihatun Nada, Diana Fara Maulida, dan Fanisha Alifia Wardhani, yang dengan bangga membawa pulang Juara 2 Nasional dalam kompetisi bertajuk Initiative to Minimize Microplastic and Pollution Analysis Competition.

Tim yang dipimpin oleh Zada ini mengusung karya berjudul “My Ocean”, sebuah media edukatif yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya mikroplastik di lautan. Melalui pendekatan interaktif, My Ocean menggabungkan informasi ilmiah, simulasi visual, dan pesan-pesan lingkungan yang mudah dipahami masyarakat luas—terutama generasi muda.

“Awalnya kami terinspirasi dari kegiatan bersih pantai yang menunjukkan betapa parahnya pencemaran plastik di laut,” tutur Zada mengenang proses awal ide mereka. “Kami ingin membuat sesuatu yang bukan hanya memberi tahu, tapi juga menggerakkan orang untuk berubah.”

Kompetisi ini diselenggarakan oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta didukung oleh Jasa Tirta dan Aliansi Zero Waste. Ajang tersebut mempertemukan puluhan tim pelajar dari berbagai daerah di Indonesia yang peduli pada isu lingkungan dan inovasi berkelanjutan.

Selama proses seleksi, tim SMANSI harus melewati serangkaian tahap, mulai dari pengajuan proposal ide, analisis dampak lingkungan, hingga presentasi di depan dewan juri yang terdiri dari para peneliti dan praktisi. “Bagian tersulit adalah mempertahankan keyakinan bahwa ide kami layak didengar,” ungkap Diana. “Tapi dukungan guru dan teman-teman membuat kami terus maju.”

Kepala SMAN 1 Sidayu, Abdul Hasib, menyampaikan apresiasinya atas prestasi tersebut. “Karya ini menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan bisa dimulai dari sekolah. Saya bangga melihat semangat dan kreativitas mereka menjadi inspirasi bagi pelajar lain,” ujarnya.

Dengan keberhasilan ini, Zada dan timnya berharap My Ocean tak berhenti di panggung kompetisi, tetapi bisa dikembangkan lebih lanjut menjadi gerakan edukasi lingkungan di sekolah-sekolah lain. “Kami ingin mengubah kepedulian menjadi kebiasaan,” tambah Fanisha.

Langkah kecil dari tiga siswi ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bagi bumi bisa dimulai dari kesadaran dan aksi nyata generasi muda.